Cari Blog Ini

Selasa, 26 Desember 2017

Pengertian Obat dan Penggolongan Obat

Apa itu obat? Secara umum, pengertian obat adalah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam dan luar tubuh guna mencegah, meringankan, dan menyembuhkan penyakit. Sedangkan, menurut undang-undang, pengertian obat adalah suatu bahan atau campuran bahan untuk dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan termasuk untuk memperelok tubuh atau bagian tubuh manusia.

Pengertian dan Penggolongan Obat

Selain pengertian obat secara umum di atas, ada juga pengertian obat secara khusus. Berikut ini beberapa pengertian obat secara khusus
  • Obat baru: Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti pembantu, pelarut, pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat dan kegunaannya. 
  • Obat esensial: Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan kesehatan masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI. 
  • Obat generik: Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. 
  • Obat jadi: Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk salep, cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk atau bentuk lainnya yang secara teknis sesuai dengan FI atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah. 
  • Obat paten: Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama pembuat yang telah diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan yang memproduksinya. 
  • Obat asli: Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. 
  • Obat tradisional: Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. 

Bagaimana penggolongan obat? Obat dapat digolongkan berdasarkan beberapa kriteria penggolongan. Kriteria penggolongan obat yaitu berdasarkan proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, bentuk sediaan obat, sumber obat, undang-undang, cara kerja obat, cara penggunaan obat, serta kegunaan obat. Menurut proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, obat digolongkan menjadi:

  • Obat diagnostik: Obat diagnostik adalah obat yang membantu dalam mendiagnosis (mengenali penyakit), misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran lambung-usus, serta natriummiopanoat dan asam iod organik lainnya untuk membantu diagnosis pada saluran empedu. 
  • Obat kemoterapeutik: Obat kemoterapeutik adalah obat yang dapat membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh inang. Obat ini hendaknya memiliki kegiatan farmakodinamik yang sekecil-kecilnya terhadap organisme inang dan berkhasiat untuk melawan sebanyak mungkin parasit (cacing protozoa) dan mikroorganisme (bakteri, virus). Obat-obat neoplasma (onkolitika, sitostika, atau obat kanker) juga dianggap termasuk golongan ini. 
  • Obat farmakodinamik: Obat farmakodinamik adalah obat yang bekerja terhadap inang dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimia dalam tubuh contohnya hormon, diuretik, hipnotik, dan obat otonom. 

Penggolongan obat berdasarkan bentuk sediaan obat dikelompokkan menjadi: 
  • Bentuk gas; contohnya, inhalasi, spraym aerosol. 
  • Bentuk cair atau larutan; contohnya, lotio, dauche, infus intravena, injeksi, epithema, clysma, gargarisma, obat tetes, eliksir, sirop dan potio. 
  • Bentung setengah padat; misalnya salep mata (occulenta), gel, cerata, pasta, krim, salep (unguetum). 
  • Bentuk padat; contohnya, supositoria, kapsul, pil, tablet, dan serbuk. 

Penggolongan obat berdasarkan sumbernya, dikelompokkan menjadi: 
  • Mikroba dan jamur/fungi; misalnya, antibiotik penisilin. 
  • Sintesis (tiruan); contohnya, vitamin C dan kamper sintesis. 
  • Mineral (pertambangan); contohnya, sulfur, vaselin, parafin, garam dapur, iodkali. 
  • Hewan (fauna); contohnya, cera, adeps lanae, dan minyak ikan. 
  • Tumbuhan (flora); contohnya, minyak jarak, kina, dan digitalis. 

Penggolongan obat menurut undang-undang dikelompokkan menjadi: 
  • Obat bebas: Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas dan tidak membahayakan si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan; diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. 
  • Obat bebas terbatas (daftar W = waarschuwing = peringatan): Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan (P No.1 sampai P No.6). 
  • Obat keras (daftar G = geverlijk = berbahaya): Obat keras adalah semua obat yang memiliki takaran dosis minimum (DM), diberi tanda khusus lingkaran bulat merah garis tepi hitam dan huruf K menyentuh garis tepinya, semua obat baru kecuali ada ketetapan pemerintah bahwa obat itu tidak membahayakan, dan semua sediaan parenteral/injeksi/infus intravena. 
  • Psikotropika: Psikotropika adalah obat yang memengaruhi proses mental, meransang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang; contohnya golongan barbital/luminal, diazepam, dan ekstasi. 
  • Narkotik (daftar O = Opium ): Narkotik adalah obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK serta dapat menimbulkan ketergantungan dan ketagihan/adiksi yang sanga merugikan individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter; contohnya kodein, metadon, petidin, morfin, dan opium. 

Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya dalam tubuh dikelompokkan menjadi: 
  • Sistemik: obat yang didistribusikan ke seluruh tubuh; contohnya obat analgetik. 
  • Lokal: obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian topikal. 

Penggolongan obat menurut cara penggunaannya, obat digolongkan menjadi: 
  • Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui implantasi, injeksi, membran mukosa, rektal, vaginal, nasal, opthalmic, aurical, collutio/gargarisma/gargle, diberi tiket biru. 
  • Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral, diberi tiket putih. 

Penggolongan obat berdasarkan kegunaan dalam tubuh digolongkan ke dalam: 
  • Untuk diagnosis (diagnostic). 
  • Untuk mencegah (prophylactic). 
  • Untuk menyembuhkan (terapeutic). 

Sekian uraian tentang Pengertian Obat dan Penggolongan Obat. Jika ada pertanyaan, saran/kritik, atau apresiasi, silahkan kirimkan melalui kotak komentar. Terima Kasih, semoga bermanfaat.


Referensi: 
Syamsuni. 2005. Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Rabu, 27 September 2017

KASUS PIL PCC DI KENDARI SULAWESI TENGGARA


Belum lama ini kita sempat dikagetkan dengan pemberitaan sejumlah pelajar di kota Kendari, Sulawesi Tenggara dilarikan ke rumah sakit karena konsumsi pil PCC. Tapi sebenarnya apa pil PCC? Apakah pil PCC adalah obat terlarang yang membuat kecandung? Atau Pil PCC adalah jenis narkoba baru seperti flakka?

Pada kasus sejumlah di Kendari yang harus dilarikan ke rumah sakit ditemukan pelajar ini mengonsumsi pil PCC. Efek sampingnya memang sangat mengerikan bahkan ada korban meninggal dunia. Tak sedikit juga yang menunjukan konsidi mental yang terganggu.

Penjelasan soal pil PCC juga sempat simpang siur dan membuat panik. Pil PCC adalah campuran obat yang terdiri dari paracetamol, caffeine, dan carisoprodol. Menurut Mufti, salah satu staf ahli kimia farmasi Badan Narkotika Nasional yang dilansir Liputan6.com, PCC memiliki senyawa Carisoprodol yang berfungsi untuk mengatasi nyeri dan ketegangan otot.

Lalu sebenarnya apa saja kandungan apa efek yang terjadi jika kombinasi obat-obatan seperti PCC disalahgunakan?

Pil PCC adalah campuran beberapa zat

PIL PCC ADALAH
Seperti yang sudah dijelaskan pil PCC adalah obat yang berasal dari campuran paracetamol, caffeine, dan carisoprodol. Pil ini memang memiliki efek samping yang bisa membahayakan jiwa. Pil PCC ini sebenarnya legal dan pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Lalu apa bahayanya kandungan dari pil PCC ini? Berikut adalah penjelasannya.

Paracetamol di pil PCC adalah salah satu obat yang dijual bebas

Mungkin kamu sudah sering mendengar soal paracetamol. Paracetamol atau acetominophen merupakan jenis obat-obtan yang dijual bebas dan termasuk dalam golongan analgesik. Obat ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit ringan hingga sedang, seperti demam atau sakit kepala hingga nyeri sendi. Efek samping dari obat ini yaitu kehilangan nafsu makan, mual, menguningnya kulit atau mata, air seni berwarna gelap, muncul ruam atau pembengkakan.

Caffeine zat kimia yang bisa ditemukan di kopi atau teh

Kafein merupakan zat kimia yang biasa ditemukan dalam kopi atau teh yang umumnya digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan mental. Dalam penggunaan lain dilansir dari hellosehat.com, kafein dikonsumsi melalui mulut atau anus untuk kombinasi dengan obat penghilang rasa sakit dan zar kimia ergotamine untuk mengobati migrain, selain itu kafein juga digunakan untuk mencegah dan mengobati sakit kepala setelah anestesi epidural.

Dalam penggunaannya, konsultasikan dosis kafein dengan dokter atau apoteker sebelum kamu memulai penggunaan.

Jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan dalam dosis tinggi, kafein bisa menyebabkan insomnia, gelisah, iritasi perut, meningkatkan tekanan darah, mengakibatkan asalah pencernaan. Efek lain dari kafein yaitu memicu penyakit jantung dan meningkatkan resiko stroke.

Carisoprodol berfungsi untuk mengatasi ketegangan otot

Carisoprodol merupakan obat golongan mucle relaxants dan berfungsi untuk mengatasi ketegangan otot yang bekerja pada jaringan syaraf dan otak yang dapat merilekskan otot. Obat ini tidak dijual bebas oleh karena itu untuk penggunaanya, obat ini memerlukan resep dokter.

Obat ini dapat menimbulkan kecanduan dan efek samping serius dari obat ini seperti hilang kesadaran, kejang, agitasi, bingung, mati rasa, detak jantung tidak stabil sedangkan efek samping normal dari carisoprodol yaitu sakit kepala, depresi, mual, muntah dan penglihatan kabur.

Bahaya pil PCC tanpa pengawasan dokter

EFEK SAMPING PIL PCC

Jika ketiga obat tersebut diminum secara bersamaan maka efek dari masing-masing obat akan bekerjasama dan merusak susunan syaraf otak. Dilansir dari hellosehat.com, PCC secara spesifik menimbulkan efk halusinasi yang tampak pada beberapa korban. Perubahan mood yang signifikan sering terjadi begitu juga dengan gangguan perilaku dan emosi dapat terjadi pada pengguna obat PCC.

Pengguna akan menunjukan gejala takut, panik dan cemas yang disebut dengan istilah bad trip. Tentu saja jika obat ini disalahgunakan akan menyebabkan overdosis hingga kematian jika si pengguna mengonsumsi secara berlebihan.

Kegunaan pil PCC sebenarnya untuk menghilangkan rasa sakit dan bisa digunakan untuk obat jantung, namun tidak diperkenankan dijual bebas tanpa izin dari dokter. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa obat ini merupakan obat keras. Namun Arman di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur menjelaskan bahwa kenyataanya pil PCC beredar secara bebas dan dijual kepada pelajar dengan harga Rp 25 Ribu, dilansir dari tribunnews.com

Tapi apakah PCC termasuk golongan narkoba? Menurut Mufti dilansir dari liputan6.com, hal tersebut bisa saja terjadi karena memiliki zat adiktif, meskipun begitu diperlukan hasil laboratorium untuk mengetahui jenis narkoba tersebut.


Hasil identifikasi

Hasil identifikasi yang saya lakukan terhadap kejadian luar biasa di Kendari serta Penyitaan dan penahanan sejawat apoteker oleh Kepolisian Daerah Sultra adalah 2 (dua) kasus yg berbeda, dan kejadiannya yang hampir berbarengan. Yaitu:
  1. Telah terjadi penyalahgunaan Obat (tab PCC + tab Somadryl + tab Tramadol + minuman dalam botol, oleh anak-anak yang mengakibatkan jatuhnya korban. Korban mendapatkan Barang Berbahaya tersebut dari lingkungan /bukan dari apotek.
  2. Penyitaan tablet Tramadol, dan penahanan apoteker dan asisten apoteker oleh kepolian Polda Sultra, dengan tuduhan menjual Tablet Tramadol tanpa resep.
2 kejadian diatas, adalah 2 kasus yang berbeda, dan masih perlu pembuktian apakah ada kaitannya dengan Apotek.
telah saya berikan arahan dan langkah2 perlindungan kepada sejawat apoteker oleh IAI PD Sultra.
Saat ini, masih berlangsung pemeriksaan di Polda Sultra.
saya minta semua sejawat apoteker dapat meluruskan informasi yg tidak benar atas kejadian ini sampai pemeriksaan selesai, dan jangan justru ikut meneruskan info yg salah, agar kita semua dapat menjaga dan memperbaiki image masyarakat yang salah, karena apotik adalah tempat resmi praktik apoteker yg dilindungi oleh Undang:
1. UU no 36 th 2009 ttg kesehatan.
2. PP no 51 tahun 2009 ttg Pekerjaan Kefarmasian.
3. Permenkes No 73 Tahun 2016 ttg standar pelayanan kefarmasian di Apotik.
Demikian informasi yang saya berikan untuk internal sejawat Apoteker, untuk menjadi maklum. Terimakasih.
Ttd
Ketua Badan Advokasi Mediasi dan perlindungan Anggota PP IAI.

kasus ini membuat resah semua kalangan tidak hanya apoteker, tetapi juga pada masyarakat. Sikap cepat yeng dilakukan oleh IAI adalah dengan mengadakan pembinaan kepada anggotanya untuk bisa melakukan praktik yang benar dan mendukung aksi "Perangi Obat ilegal" serta "menolak penyalahgunaan obat dan peredaran obat ilegal" melalui seminar, Rakercab dan media sosial. 




TERIMAKSAIH


Kamis, 10 Desember 2015

Suplementasi Vitamin C Bermanfaat pada Pasien DM dengan Terapi Metformin



Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu gangguan metabolik mayor yang dikaitkan dengan morbiditas dan biaya yang tinggi. Selain hiperglikemia, DM juga ditandai dengan stres oksidatif, inflamasi, dan resistensi insulin. Beberapa peneliti telah melibatkan peranan patologi yang dimediasi oleh radikal bebas dalam DM. Penyakit ini mempunyai outcome yang belum baik, meskipun tersedia terapi terbaik saat ini. Oleh karena itu, pengembangan strategi baru untuk memperbaiki outcome akan memberikan manfaat yang besar.

Obat hipoglikemik oral yang ada saat ini tidak menunjukkan perbaikan stres oksidatif yang nyata pada pasien DM. Vitamin C (ascorbic acid), suatu antioksidan vitamin, berperan penting dalam melindungi terhadap kerusakan yang diinduksi radikal bebas. Studi sebelumnya telah menunjukkan adanya penurunan kadar vitamin C basal pada pasien DM tipe 2. Vitamin C secara struktural sama dengan glukosa dan dapat menggantikannya dalam banyak reaksi kimia, sehingga efektif untuk mencegah glikosilasi non-enzimatik dari protein. Suatu studi telah melaporkan penurunan glukosa darah puasa dan glycosylated hemoglobin setelah suplementasi vitamin C.

Dalam setting klinis, DM tanpa komplikasi telah ditatalaksana dengan antioksidan (seperti ascorbic acid, alpha-tocopherol, dll) dengan obat hipoglikemik standar, yang bertujuan untuk membatasi autooksidasi glukosa dan komplikasi peroksidasi lemak. Studi hewan telah menunjukkan bahwa pemberian bersama metformin dengan ascorbic acid (vitamin C) menyebabkan penurunan kadar gula darah secara bermakna. Selain itu, kombinasi tersebut juga menurunkan kadar kolesterol total plasma, LDL-c, VLDL-c, namun tidak memberikan efek pada HDL-c.

Selanjutnya juga telah dilakukan suatu studi tersamar ganda dengan kontrol plasebo selama 12 minggu, yang menilai efek vitamin C oral terhadap glukosa darah puasa dan setelah makan, dan HbA1c dalam terapi DM tipe 2 dengan metformin 500 mg, 2 kali sehari. Studi ini melibatkan 70 pasien DM tipe 2 yang secara acak diberi vitamin C 500 mg, 2 kali sehari atau plasebo selama 12 minggu.

Hasilnya menunjukkan adanya penurunan kadar ascorbic acid plasma pada pasien dengan DM tipe 2. Kadar ini membaik secara bermakna setelah terapi vitamin C bersama dengan metformin dibanding dengan plasebo bersama metformin. Kadar gula darah puasa, kadar gula darah setelah makan, dan kadar HbA1c menunjukkan perbaikan yang bermakna setelah 12 minggu terapi dengan vitamin C. Sedangkan pada kelompok plasebo, hanya terjadi perbaikan bermakna pada kadat gula darah, tetapi tidak terjadi perbaikan secara bermakna pada kadar HbA1c. Dalam studi tersebut, terapi vitamin C bersama metformin juga dapat ditoleransi dengan baik dan tanpa ditemukan efek samping.

Dapat disimpulkan bahwa suplementasi vitamin C oral bersama dengan metformin memperbaiki kadar ascorbic acid, menurunkan kadar gula darah puasa dan kadar gula darah setelah makan, serta memperbaiki kadar HbA1c, sehingga vitamin C dapat menjadi adjuvan yang menarik dalam terapi DM tipe 2 untuk mempertahankan kontrol glikemik yang baik. Namun, masih diperlukan studi dengan sampel yang lebih besar dan follow-up yang lebih panjang dengan pengukuran kadar antioksidan terkait lainnya dan studi pada DM tipe 2 dengan atau tanpa komplikasi untuk menjelaskan peranan yang pasti dari suplementasi vitamin C pada DM tipe 2. (EKM)

Image : Ilustrasi

Referensi:





download

Sabtu, 05 Desember 2015

Efek Guarana dalam Menurunkan Berat Badan



Guarana merupakan tanaman dataran tinggi dari spesies Sapinadaceae yang tumbuh di daerah Amazon, Brazil. Biji Guarana mengandung 2 kali lipat lebih banyak kafein dibandingkan dengan biji kopi. Guarana dapat digunakan sebagai suplemen, yang mempunyai sifat dasar stimulant. Biji Guarana merupakan sumber utama kafein di Amerika Selatan. Kandungan kafein di dalam Guarana biasa disebut dengan guaranine, theine, dan mateine. Penduduk Amerika Selatan biasanya mencuci dan mengeringkan biji Guarana sebelum ditumbuk sampai menjadi bubuk untuk membuat teh. Di samping kafein, Guarana juga mengandung alkaloid xantin yang lain, seperti theophyline dan theobromine. Kandungan lain dari Guarana adalah tannin dan fenol seperti katekin dan epikatekin.

Penelitian pada manusia, Guarana dapat menurunkan sel lemak dan efeknya positif dalam penurunan berat badan. Kandungan kafein di dalam Guarana terutama berpengaruh pada berat badan. Namun demikian, alkaloid xantin yang lain (khususnya theobromine) juga berpengaruh pada penurunan berat badan. Kafein dan theobromine merupakan stimulant pada susunan saraf pusat. Keduanya dapat meningkatkan denyut jantung dan metabolic rate. Selain itu, juga dapat menstimulasi pelepasan epinefrin dan norepinefrin di mana dapat mengatur aktivitas otot. Mekanisme ini yang memicu terjadinya pembakaran simpanan lemak di dalam tubuh. Efek thermogenic dari Guarana dapat dengan cepat menurunkan berat badan. Kafein dan theobromine juga dapat sebagai diuretik, yaitu dengan merangsang pengeluaran air melalui tubulus ginjal dengan mencegah terjadinya reabsorpsi dan memicu eliminasi. Baru-baru ini, thebromine yang terkandung di dalam Guarana juga dapat menekan nafsu makan. Selain itu, konsumsi Guarana dapat menurunkan asupan kalori yang berlebihan.

Ada 2 penelitian yang menilai efek pemberian Guarana pada penurunan berat badan. Penelitian pertama tahun 2001, dalam the Journal of Human Nutrition and Dietetics. Subjek adalah pasien sehat dengan kelebihan berat badan yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu ada yang mendapatkan kapsul yang mengandung Guarana atau plasebo. Berat badan pasien sebelum dan sesudah penelitian diukur. Waktu intervensi selama 45 hari dan dimonitor sampai 12 bulan untuk menilai efek sampingnya. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang diberi kapsul yang mengandung Guarana secara bermakna mengalami penurunan berat badan. Selain itu, juga terjadi perlambatan pengosongan lambung pada subjek yang diberi kapsul Guarana dibandingkan dengan plasebo.

Penelitian berikutnya yang juga dipublikasikan tahun 2001 oleh the International Journal of Obesity-Related Medical Disorders, yang mengombinasikan Gurana dengan preparat lainnya, yaitu efedrin 6-8%. Pada penelitian ini, subjek sebanyak 67 pasien sehat dengan kelebihan berat badan (IMT ≥29 dan ≤35 kg/m2) yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok plasebo (n=32) dan kelompok yang diberi kombinasi Guarana 240 mg dan efedrin 72 mg (n=35) selama 8 minggu.  Hanya 24 subjek tiap kelompok yang dapat menyelesaikan penelitian. Hasilnya pada kelompok yang diberi kombinasi Guarana dan efedrin mengalami penurunan berat badan (X+/-s.d.,-4,0+/-3,4 kg; P<0,0006) dan lemak (-2,1+/-3,0%) dibandingkan dengan plasebo (-0,8+/-2,4 kg dan 0,2+/-2,3% lemak). Selain itu, pada kelompok yang diberi kombinasi Guarana dengan efedrin juga mengalami penurunan lingkar panggul dan kadar trigliserida.

Kesimpulan: Guarana merupakan tanaman dataran tinggi dari spesies Sapinadaceae yang tumbuh di daerah Amazon, Brazil. Guarana mengandung kafein 2 kali lebih besar dibandingkan dengan kopi. Selain kafein, Guarana juga mengandung alkaloid xantin yaitu theophyline dan theobromine. Guarana mempunyai sifat stimulant dan mempunyai efek thermogenic, diuretik, serta penekan nafsu makan. Berdasarkan penelitian, Guarana dapat menurunkan berat badan baik dalam bentuk tunggal ataupun kombinasi. (LAI)

Image : Ilustrasi

Referensi:

download

Rendahnya Kasus Diabetes Baru pada Pasien Pre-diabetes dengan Insulin



Studi ORIGINALE yang merupakan follow up jangka panjang dari studi Outcome Reduction with an Initial Glargine Intervention (ORIGIN) mengevaluasi efek insulin glargine pada risiko kardiovaskuler pasien DM tipe 2. Hasilnya pada studi ini adalah pemberian insulin glargine yang akan membuat plasma glukosa puasa normal selama lebih dari 6 tahun akan memperbaiki status metabolik jangka panjang dan memiliki efek netralisasi pada keluaran klinis kesehatan secara umum. ORIGINALE mengevaluasi keluaran primer dan sekunder utama seperti infark miokardium nonfatal dan stroke, kematian, serta beberapa pengukuran kesehatan lainnya.

Dalam pertemuan the European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2014 yang mendiskusikan mengenai hasil dari uji klinik ORIGINALE, peneliti utama Hertzel Gerstein, MD, Population Health Institute chair di Diabetes Research di Universitas McMaster, Hamilton, Ontario, mengatakan bahwa selama uji klinik ORIGIN berlangsung, terapi insulin mengurangi munculnya insidens diabetes baru pada pasien yang tidak menderita diabetes di awal uji klinik dilakukan.

Pada ORIGINALE ini ditemukan bahwa pasien mencapai indeks glikemik yang konsisten. Pemberian insulin dapat mengurangi munculnya diabetes baru, bahkan setelah terapi selesai diberikan atau dihentikan. Sebagai catatan, lebih sedikit kasus diabetes baru ditemukan pada orang yang sebelumnya menderita pre-diabetes yang telah diberikan terapi insulin sebelumnya jika dibandingkan dengan terapi standar pada studi follow up ini.

Diperkirakan selama ini bahwa fungsi pankreas yang sudah rusak atau terganggu tidak dapat dikembalikan. Namun, oleh peneliti dikatakan mungkin hal tersebut kurang tepat, karena diharapkan dengan menurunkan glukosa darah secara intensif dapat mengembalikan beberapa fungsi endokrin pankreas. Sebaiknya studi ini dapat dikonfirmasi dengan studi selanjutnya di masa yang akan datang. (PMD)

Image : Ilustrasi
Referensi:



download

 
Design by Blogger Indonesia | Bloggerized by Milik Bersama