Cari Blog Ini

Rabu, 23 Januari 2019

IAI PC Banyuwangi Datangkan Dua Pemateri Hebat Pebisnis Apotek Yang Telah Terbukti Sukses


Banyuwangi – adalah sebuah kabupaten di provinsi jawa timur yang terletak di ujung paling timur pulau jawa dan berbatasan langsung dengan kabupaten Situbondo di utara, selat Bali di Timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat. Penduduk wilayah banyuwangi di tahun 2018 sekitar 1.733.515 Jiwa. Serta dengan Luas area banyuwangi sekitar 5.782 km². Sangat luas sekali kan ? heheheee
Karena inilah banyuwangi sangat cocok sekali untuk bisnis apotek. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika masa depan bisnis apotek ini sangat menarik dan akan cemerlang. Sekarang sudah mulai banyak yang ingin sekali buka apotek. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana kita memulai buka apotek langsung laris pembeli ? bagaimana caranya kita mampu bersaing dengan apotek - apotek  besar seperti K24, Kimia Farma, dan apotek besar lain yang sudah terkenal serta bermodal besar? Apa sajakah hambatan dan cobaan berat dalam bisnis apotek? Adakah solusinya ?
Nah... unek – unek ini akan bisa terjawab oleh dua pemateri hebat yang sudah berpengalaman meningkatkan bisnis apotek dan sudah menjadi pembicara di berbagai SEMINAR di seluruh indonesia. 

AYO DAFTARKAN DIRI ANDA DALAM SEMINAR DAN KONFERCAB BANYUWANGI...!!!!


PHARMAPRENEUR UNTUK MEWUJUDKAN APOTEKER YANG MANDIRI


Minggu, 10 Februari 2019

PEMBICARA KE-1


 ANDY EKO WIBOWO, M.Sc., Apt.
Owner Apotek Indah Farma
Dosen Farmasi UMY

Sub Topik
“3 Kesalahan Pengelolaan Bisnis Apotek Yang Pernah Saya Alami Beserta Transformasinya”


PEMBICARA KE-2


 NUNU NUGRAHA, M.Farm., Apt.
Owner PT GALENIKA FARMASINDO
Konsultan Produk PT Global Inti Indonesia
Komisaris PT Global Hexa Natura

Sub Topik
“1001 Cara Apoteker Berbisnis Dan Beberapa Kajian Bisnis Yang Ada Di Apotek”

Waktu :
Minggu, 10 Februari 2019
Jam : 07.00 – 17.00 WIB/ selesai

 Pendaftaran :
Anggota IAI BWI 200K
Anggota IAI Non BWI 250K


 Pembayaran Melalui :
Mandiri No rek a/n Ummi Fasilah 1430004527923
*Tidak menerima pembayaran on site
*Pembayaran maksimal sampai dengan tanggal 07 Februari 2019.

 BAGAIMANA CARA REGISTRASINYA ?
HEMMM... IYAAAH... YUK IKUTI LANGKAH BERIKUT INI :

  1. TRANSFER DAHULU SEJUMLAH UANG (Anggota IAI BWI 200K jika Anggota IAI Non BWI 250K)
  2. ISI FORM UNTUK NAMA SERTIFIKAT DAN UPLOAD BUKTI TRANFER DI BAWAH INI



ATAU
Pendaftaran Via Scan Qrcode

ATAU 


 Kontak Person :
1. Ummi Fasilah (085230311356)
2. Restu Widayu (082335395769)

PANITIA PENGARAH   : Titi Wahyu Andayani, S.Si., Apt

PANITIA PELAKSANA : 
KETUA           : Hafan Muttaqin, S.Farm., Apt
SEKRETARIS : RestuWidayu, S.Farm., Apt


Lokasi :
Aula Hotel Ketapang Indah
Jln. Gatot Subroto No.6 Klatak Kalipuro – Banyuwangi


Jumat, 09 Februari 2018

Minum Obat Diabetes Millitus

Diabetes Millitus


"Saya hampir mati rasanya, habis minum obat gula lemes mau siup...!", kata seorang pasien...

Gara-garanya si pasien minum obat Glibenclamide di pagi hari tanpa disertai sarapan. Padahal intruksinya obat harus diminum sesaat (kira-kira 5 - 10 menit) sebelum makan pagi. Dikiranya walau pagi tidak makan / sarapan obatnya tetap diminum.

Kejadian "hampir mati" setelah minum obat diabetes bukan sekali dua kali kami temui, maka penting untuk kita ketahui beberapa informasi berikut...

1. Obat diabetes secara umum dan mudahnya kita bagi dalam 2 kelompok besar...

PERTAMA kelompok perangsang produksi insulin, dan

KEDUA kelompok pengoptimal kerja insulin

2. Kelompok PERTAMA perangsang produksi insulin, kerjanya dengan merangsang sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak.

Insulin yang tinggi menyebabkan gula darah bisa dengan mudah 'terserap' oleh sel tubuh, akibatnya kadar gula darah turun.

Contoh obatnya : Glimepiride, Glibenclamid, Gliquidone, Gliclazide, dsb biasanya berawalan Gli...(golongan sulfonylurea)

3. Kelompok PERTAMA memiliki efek cepat menurunkan kadar gula darah, maka efek sampingnya jelas "Gula darah drop" alias hypoglycemia.

Cirinya pusing, keringat dingin, badan bergetar, mata berkunang2 dan pingsan.

Jika timbul gejala ini SEGERA MAKAN DAN MINUM YANG MANIS. Karena jika dibiarkan bisa pingsan sampai koma masuk ICU.

Yang paling sering bikin hypoglycemia adalah Glibenclamide (makanya di AS, UK dan Aussie sudah kurang recomended lagi), paling jarang bikin hypoglycemia Gliclazide (karena durasi kerja paling pendek), dan yang paling sering digunakan saat ini adalah Glimepiride (durasi kerja panjang tapi lebih aman dari Glibenclamide).

4. Kelompok PERTAMA ini harus diminum sesaat (5-10 menit) sebelum makan atau sarapan pagi yang tinggi karbohidrat (bukan makan makanan ringan apalagi cuma air putih).

Jika pagi tidak makan atau sarapan TIDAK BOLEH MINUM OBAT INI, tunda sampai waktu makan tiba, misalnya anda makan jam 11 maka diminum 5 menit sebelum jam 11, atau jika langsung makan siang TANPA SARAPAN maka obat diminum 5 menit sebelum makan siang.

JIKA PUASA maka minumnya ditunda sampai waktu berbuka puasa, 5 menit sebelum makan besar.

5. Kelompok KEDUA, pengoptimal kerja insulin. Obat ini tidak membuat drop kadar gula darah, jarang sekali menimbulkan hypoglycemia, karena kerjanya tidak meningkatkan produksi insulin, tapi INSULIN YANG SUDAH ADA DIOPTIMALKAN KERJANYA.

Contoh obatnya : Metformin, Pioglitazon, Sitagliptin, Empagliflozin, Liraglutide, Acarbose (khusus Acarbose kerjanya mengurangi penyerapan glukosa)

6. Kelompok KEDUA ini diminum tanpa makan besar tidak masalah, hanya buat mereka yang "perutnya" sensitif biasanya bikin mual dan kembung, makanya tetap disarankan diminum bersama / disela-sela waktu sedang makan, makanannya bisa makanan ringan atau berat tidak masalah. CARANYA SETELAH SUAPAN KE-1 ATAU KE-2 OBAT INI LANGSUNG DIMINUM.

7. Kelompok KEDUA yang paling umum adalah METFORMIN, obat ini adalah standar pertama pada pengobatan diabetes.

8. METFORMIN ini lebih baik dipilih tablet yang bentuk XR atau "extended release", artinya obat dikeluarkan dan diserap perlahan-lahan.

Cirinya ada tulisan XR di kemasannya, contoh Metformin XR, Nevox XR, Glucophage XR, dsb. Dengan memilih bentuk XR efektifitasnya lebih baik dan efek samping yang bikin mual dan kembung akan sangat minimal.

JIKA ANDA SUDAH BIASA MENGGUNAKAN BENTUK XR JANGAN DIGANTI KE BENTUK BIASA. Tapi memang harganya lebih mahal dari yang bukan XR.

9. OBAT DIABETES DIMINUM SAMPAI DIABETESNYA SEMBUH. Tandanya sembuh adalah fungsi sel beta pankreas kembali normal. Namun sayangnya sampai saat ini BELUM ADA TERAPI MENGEMBALIKAN SEL BETA PANKREAS NORMAL.

Karena sekali sel beta pankreas rusak / mati tidak bisa diperbaiki / dihidupkan kembali.

SATU SATUNYA CARA ADALAH DENGAN TEKNOLOGI TRANSPLANTASI PANCREAS ATAU ISLET TRANSPLANTASI. Namun biayanya tidak murah dan uji cobanya panjang, sehingga bukan menjadi standar dalam terapi diabetes tipe 2.

10. Jadi selama pankreas masih belum bisa diperbaiki mau tidak mau OBAT DIABETES DIMINUM TERUS, bahkan mungkin seumur hidup.

Wallahu a'lam...
Semoga bermanfaat...
Salam sehat...

Bacaan:

American Diabetes Association Standards of Medical Care in Diabetes 2017
https://www.google.co.id/url…

Pancreas Transplant
https://www.mayoclinic.org/…/pancreas-tr…/about/pac-20384783

Drug.com
https://www.drugs.com/

Waktu Yang Tepat Minum Obat



Jadi, Amlodipine (Norvasc) diminum pagi apa malam?
(drug chronotherapy bagian 2)

“Jadi, orang tua saya minum Amlodipine harusnya pagi atau malam?”

Nah, sekarang kita lanjut dikit ya ke masing-masing jenis obat, mudah-mudahan bisa menambah wawasan.

Tapi sekali lagi saya ulangi :
Informasi ini TIDAK MENGGANTIKAN INSTRUKSI DOKTER, tapi sebagai bahan diskusi dengan dokter dan apoteker Anda. Tetap ikuti instruksi dokter yang meresepkan obat, karena boleh jadi ada pertimbangan lain kenapa Anda diberikan aturan minum tersebut...oke ya...

Nah berikut ini beberapa jenis obat dan waktu minumnya :

OBAT HIPERTENSI
-----------------------
Secara umum ritme tekanan darah kita akan meningkat saat bangun di pagi hari sampai siang, saat sore tekanan mulai turun dan malam hari biasanya tekanan darah mecapai titik yang rendah (istilahnya “dipping”). Pada kasus pasien seperti ini biasanya dokter akan meresepkan obat tekanan untuk diminum pada pagi hari.

1. AMLODIPIN (CCB)
Buat pasien yang ritmenya masih normal (dipping) dan tanpa komplikasi maka dokter bebas meresepkan Amlodipin apakah diminum pagi hari atau malam hari manfaatnya sama saja karena durasi kerjanya panjang.

Tapi perlu diingat, kalau pasien ada penyakit lain seperti kolesterol dan mendapat Simvastatin (yang harus diminum malam hari) diminum malam bisa bertemu Amlodipine, wah bisa interaksi dong... maka solusinya Amlodipin sebaiknya diminum pagi hari supaya keduanya nggak ketemu, soalnya kalau ketemu resiko efek samping Simvastatin akan meningkat yaitu 'kerusakan otot' (Rhabdomyolysis) .


2. ACEI DAN ARB
Adapun jenis obat tekanan lain seperti ACEI durasi panjang (long acting) macam Ramipril, Lisinopril atau ARB durasi panjang (long acting) macam Candesartan, Valsartan (Diovan), Losartan, atau Telmisartan (Micardis), kalau pasien ritme biologisnya masih bagus (dipping) dan tanpa komplikasi maka masih bebas mau diminum malam atau pagi.


3. DIURETIK
Obat tekanan jenis Diuretik seperti HCT, Cortalidon, Furosemide (apakah pasien dipping maupun non-dipping sama saja) sebaiknya diminum pagi hari karena kerjanya merangsang kencing takutnya kalau diminum malam bisa ganggu tidur karena bolak balik ke kamar kecil.


Berbeda kalau pasien dengan kasus Non-dipping (ritme tubuhnya sudah 'kacau'), harusnya pada malam hari tekanan darahnya turun tapi ini malah nggak. Biasanya ini terjadi pada pasien tua > 60 tahun, penderita diabetes, atau penderita komplikasi kardiovaskular lain. Nah, secara umum buat pasien seperti ini sebaiknya obat tekanan darah diminum malam hari. Apakah obat tunggal atau kombinasi tetap diminum malam hari.

Ini berlaku juga bagi pasien dengan komplikasi diabetes. FYI dalam guideline Manajemen Diabetes-nya American Diabetes Association menyarankan bagi pasien hipertensi atau punya resiko tinggi gangguan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) agar mendapat obat hipertensi (minimal 1 jenis) yang harus diminum pada malam hari, tujuannya buat menurunkan resiko komplikasi kardiovaskular (seperti stroke dan serangan jantung), dimana sebagian besar kasus stroke dan serangan jantung terjadi antara jam 6 pagi sampai jam 12 siang, dengan memberikan obat anti hipertensi malam hari harapannya obatnya bisa bekerja optimal dalam mencegah stroke dan serangan jantung pada saat bangun pagi sampai keesokan harinya.

NB: Lalu gimana cara menentukan pasien itu ritmenya normal (dipping) apa nggak (non-dipping)...?

Caranya dengan memeriksa minimal 2-3 kali dalam 1 minggu, dimana setiap harinya dilakukan minimal 2 kali pemeriksaan tekanan darah yaitu pagi dan malam. Atau bisa juga dokter menyarankan penggunaan alat pengukur tekanan darah di rumah yang dipakai sehari semalam selama 24 jam selalu menempel di badan, alat ini disebut "Ambulatory blood pressure monitoring (ABPM) device" yang selalu mencatat grafik perubahan naik turunnya tekanan darah pasien selama 24 jam. Kalau malam hari tekanan tidak turun berarti termasuk kategori Non-dipping.


OBAT PENURUN KOLESTEROL
---------------------------------------

Karena sebagian besar kolesterol diproduksi tubuh pada malam hari makanya obat kolesterol jenis penghambat produksi kolesterol seperti Simvastatin, Atorvastatin (Lipitor), atau Rosuvastatin (Crestor) disarankan malam hari, terlebih buat Simvastatin karena durasi kerjanya yang pendek, adapun Atorvastatin dan Rosuvastatin kalau kepepet atau males diminum malam hari masih nggak papa diminum pagi atau siang karena durasi kerjanya panjang.

Kalau obat kolesterol jenis yang lain macam Gemfibrozil atau Fenofibrat (obat ini buat pasien dengan kolesterol jenis Triglycerida / TG yang tinggi) biasanya memang diminum 2x yakni siang dan malam.


OBAT 'PENGENCER DARAH'
------------------------------------

Untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah, pada pasien dengan resiko tinggi akan diberikan obat yang kerjanya 'mengencerkan darah' (anti platelet / anti pembekuan darah) seperti Asam Asetil Salisilat (contoh mereknya Aspirin, Aspilet, Miniaspi, Farmasal) atau Clopidogrel (contoh mereknya Plavix, CPG).

Dari beberapa riset menunjukkan bahwa obat pengencer darah ini lebih efektif diminum malam hari. Sebab kerja "platelet" yang bertugas membekukan darah optimal kerjanya di pagi hari, supaya saat pagi obat pengencer darahnya sudah 'ready' atau siap maka dianjurkan obatnya diminum sejak malam hari.


OBAT DIABETES
---------------------
PERTIMBANGKAN KEPATUHAN PASIEN
---------------------------------------------------

Karena obat tekanan, kolesterol dan diabetes itu diminum jangka panjang bahkan mungkin seumur hidup maka perlu diatur waktunya supaya pasien tidak lupa minum atau terlewat.

Karenanya kita menyarankan jangan terlalu banyak variasi waktu minum obatnya. Diusahakan 1 atau maksimal 2 kali sehari saja, bahkan kalau perlu gunakan pil kombinasi, 1 obat isinya 2 atau 3 jenis obat sekaligus, supaya pasien nggak repot kebanyakan jenis obat.


CONTOH KASUS
--------------------

Kalau kita ilustrasikan buat pasien Non-dipping dengan komplikasi penyakit lain dengan obat2nya maka jadinya seperti ini kira2...

Seorang pasien dapat obat dari dokter Amlodipin 1x, HCT 1x, Simvastatin 1x, Aspilet 1x, Glimepirid 1x, dan Metformin 3x sehari. Maka diatur minumnya kurang lebih seperti ini :


1. PAGI saat sarapan :

- HCT (karena bikin kencing),

- Glimepiride (lebih baik saat waktu makan pertama), dan

- Metformin (dosis pertama)


2. SIANG saat makan siang :

- Metformin (dosis kedua)


3. MALAM saat makan malam :

- Amlodipin (boleh juga sih diminum pagi cuma kita kan mau mengikuti saran dari ADA yang menyebutkan adanya benefit lebih bila pasien mendapat obat tekanan di malam hari),

- Simvastatin sebaiknya diganti Atorvastatin atau Rosuvastatin karena berinteraksi yang beresiko 'merusak otot' bila diminum bersama dengan Amlodipin, tapi kalau dokter tetap mau ngasi Simvastatin maka mau ga mau kita ngalah aja Amlodipin diminum pagi, LEBIH BAIK MENGURANGI BENEFIT DARIPADA MEMAKSAKAN BENEFIT TAPI MALAH MEMBAHAYAKAN

- Aspilet (supaya lebih efektif diminum malam), dan

- Metformin (dosis ketiga).

Bagaimana kalau pasien itu ada Asam Urat dan mendapat obat penurun asam urat Allopurinol 1x sehari?

Kita tahu Allopurinol minumnya bebas aja, mau pagi atau sore atau malam insya Allah efektifitasnya sama.

FYI setelah pemberian Allopurinol pada awal2 terapi asam urat, biasanya nyeri akan semakin hebat karena proses 'pengeluaran' asam urat dari persendian (gitulah bahasa awamnya). Bila Allopurinol diberikan tanpa disertai anti nyeri maka resiko nyeri hebat di persendian akan meningkat, nah dalam kasus ini biasanya dokter akan menambahkan anti nyeri untuk diminum selama beberapa hari sampai efek nyeri dari proses 'pengeluaran' tersebut hilang. katakanlah dokter meresepkan anti nyeri Meloxicam 1x sehari.

Jadi buat kasus di atas kalau pasien diresepkan Allopurinol diminumnya sila dipilih mana yang paling nyaman, mau pagi atau malam.

Sementara Meloxicam-nya diminum pagi hari.

Kenapa?

Karena Meloxicam sifatnya asam, maka sebaiknya tidak diminum bersamaan Aspilet yang juga asam, takutnya meningkatkan efek 'iritasi lambung', maka solusinya kalau Aspilet diminum malam berarti Meloxicam diminum pagi, begitu sebaliknya.

Ingat, tadi kita sudah tahu Aspilet disarankan diminum malam hari, jadi yang ngalah Meloxicam.

Pertimbangan lain kenapa anti nyeri Melokxicam diberikan pagi hari karena umumnya serangan gout / nyeri asam urat terjadi pada pagi hari.


BIAR TAMBAH MUMET
(khusus buat teman sejawat Apoteker)
---------------------------------------------------

Kenapa nggak dipilih Colchicine sebagai ganti Meloxicam? Bukankah ini obat pilihan buat nyeri asam urat (gout)?

Eiiit...awas hati2 ya dalam kasus pasien di atas dia mendapat obat golongan Statin (Simvastatin, Atorvastatin atau Rosuvastatin) dimana Colchicine nggak boleh diberikan pada pasien yang mendapat obat golongan Statin. Sila cek interaksinya di aplikasi "interaction checker"...

Biar tambah mumet (hehehe...) masih ada lagi yang perlu difikirkan, kalau terjadi peningkatan asam urat di pasien kita boleh curiga itu efek samping dari obat tekanan jenis diuretik yakni HCT. Ga mungkin terapi diteruskan dengan pemberian HCT dong...makanya dokter mungkin akan ganti ke golongan ACEI atau ARB. Anggaplah diganti ARB macam Telmisartan (Micardis) atau Valsartan (Diovan). Kalau gitu gimana ngaturnya? Hehehe...


BEBERAPA PANDUAN
-------------------------------

Gunakan pertimbangan dalam pemilihan waktu minum obat sebagai berikut...

1. Kalau TIDAK ADA RESIKO apapun, tidak ada interaksi obat, tidak ada resiko efek samping pada tubuh, dan tidak ada data kapan waktu optimal kerja obat maka PILIHLAH WAKTU MINUM OBAT YANG PALING NYAMAN, MUDAH DIINGAT, DAN BISA KONTINYU DIKONSUMSI PASIEN

2. Tapi kalau ada data waktu minum yang optimal dengan benefit lebih maka sebaiknya diminum pada saat itu, KENYAMANAN DIKALAHKAN DEMI MENGIKUTI WAKTU YANG OPTIMAL DEMI BENEFIT, kecuali kalau setelah dicoba supaya konsisten, pasien sudah dikonseling supaya minum obat pada waktu optimal ternyata pasien malah sering kelupaan minum obat maka pilihannya OPTIMAL DIKALAHKAN DARIPADA SERING TIDAK MINUM OBAT, efek yang kurang optimal atau benefit yang kurang masih mending dari pada pasien tidak minum obat sama sekali. Opsi lain mungkin perlu memilih obat kombinasi, misal 1 tablet berisi 2 atau 3 macam obat sekaligus, jadi pasien cukup minum 1 tablet saja supaya nggak repot.

3. Kalau ada data yang menunjukkan waktu optimal atau ada benefit lebih TAPI KALAU DIPAKSAKAN MALAH BERESIKO (misalnya ada interaksi obat atau efek samping yang berat), MAKA TINGGALKAN BENEFIT, LEBIH BAIK MENGURANGI BENEFIT DARIPADA MEMAKSAKAN BENEFIT TAPI MALAH MEMBAHAYAKAN

4. Yang paling utama dari semuanya adalah MONITORING DAN EVALUASI. Pemantauan kondisi pasien dan evaluasi adalah perlu, sebab sering kali apa yang dalam teori benar dalam klinis bisa berlaku sebaliknya. Kita sudah khawatir bakal terjadi resiko ini itu ternyata pada pasien tersebut tidak terjadi, begitu sebaliknya, kita sudah pilih yang paling aman sesuai standar terapi tapi ternyata pada pasien tersebut malah muncul efek buruk.

Selalu ingat bahwa kondisi pasien berbeda2, tingkat keparahan penyakit mungkin berbeda, sensitifitas pada obat juga berbeda, belum lagi tingkat kepatuhan dan kepedulian pasien juga ga sama.

5. Maka itulah INFORMASI DAN EDUKASI ITU PENTING. Pasien harus diberitahu tetang diagnosanya, kemungkinan2 yang akan terjadi selama terapi, cara menggunakan obatnya, apa yang harus diwaspadai selama menggunakannga dan apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama terapi.


THE LAST BUT NOT THE LEAST
---------------------------------------------

Semoga apa yang kita fikirkan, kita pelajari dan semua daya upaya yang telah kita lakukan demi pasien menjadi amal jariyah dan ladang ibadah buat kita.

Catatan :

Curcol dikit ya...

Saya masih bingung bagaimana caranya ya supaya bisa fokus ke pasien kalau di era BPJS gini Dokter masih harus melayani 50 sd 60 pasien setiap hari di poli rawat jalan, dan apesnya lagi di apotik 1 Apoteker harus melayani 100 sd 200 pasien per hari dari semua poli dengan berbagai jenis penyakit...?

Yang kita bahas ini BARU SALAH SATU SAJA DARI SEKIAN BANYAK YANG HARUS DILAKUKAN.
Masih harus ngecek dosis, masih harus mikir interaksi obat, masih harus ngecek apa ada kontra-indikasi apa nggak, ngasi tahu efek samping dan rencana monitoring...dst...
Sulit dibayangkan...

Wallahu a'lam
Sekian terima kasih...

Bacaan:

1. Perspective : Chronotherapeutics and Its Role in the Treatment of Hypertension and Cardiovascular Disease https://www.medscape.com/viewarticle/407701_7

2. JNC 8 https://www.google.co.id/url…

3. Timing of Administration: For Commonly-Prescribed Medicines in Australia https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4932476/…

4. Wang C, et al. Evening versus morning dosing regimen drug therapy for chronic kidney disease patients with hypertension in blood pressure patterns: a systematic review and meta-analysis. Intern Med J. 2017. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/28544243/…

5. Sun Y, et al. Effect of bedtime administration of blood-pressure lowering agents on ambulatory blood pressure monitoring results: A meta-analysis. Review article. Cardiol J. 2016. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/27296158/…

6. Liu X, et al. Evening -versus morning- dosing drug therapy for chronic kidney disease patients with hypertension: a systematic review. Review article. Kidney Blood Press Res. 2014. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/25471279/…

7. Roush GC, et al. Evening dosing of antihypertensive therapy to reduce cardiovascular events: a third type of evidence based on a systematic review and meta-analysis of randomized trials. Review article. J Clin Hypertens (Greenwich). 2014. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/25039609/…

8. Waeber B, et al. Nighttime blood pressure: a target for therapy?. Review article. Curr Hypertens Rep. 2010. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/20862569/…

9. Time of administration important? Morning versus evening dosing of valsartan
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4284009/

10. Hermida RC, et al. Comparison of the efficacy of morning versus evening administration of telmisartan in essential hypertension. Randomized controlled trial. Hypertension. 2007. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/17635851/

11. Hermida RC, et al. Chronotherapy with valsartan/amlodipine fixed combination: improved blood pressure control of essential hypertension with bedtime dosing. Randomized controlled trial. Chronobiol Int. 2010 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/20653455/…

12. Smolensky MH, et al. Administration-time-dependent effects of blood pressure-lowering medications: basis for the chronotherapy of hypertension. Review article. Blood Press Monit. 2010. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/20571367/…

13. Hermida RC, et al. Treatment-time regimen of hypertension medications significantly affects ambulatory blood pressure and clinical characteristics of patients with resistant hypertension. Randomized controlled trial. Chronobiol Int. 2013. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/23098160/…

14. Hermida RC, et al. Treatment of non-dipper hypertension with bedtime administration of valsartan. Randomized controlled trial. J Hypertens. 2005. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/16148616/…

15. Minutolo R, et al. Changing the timing of antihypertensive therapy to reduce nocturnal blood pressure in CKD: an 8-week uncontrolled trial. Am J Kidney Dis. 2007. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/18037091/…

16. Cheng M, et al. The effect of continuous nursing intervention guided by chronotherapeutics on ambulatory blood pressure of older hypertensive patients in the community. Randomized controlled trial. J Clin Nurs. 2014. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/24393346/…

17. Farah R, et al. Switching therapy to bedtime for uncontrolled hypertension with a nondipping pattern: a prospective randomized-controlled study. Randomized controlled trial. Blood Press Monit. 2013. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/23660686/…

18. White WB, et al. Effects of graded-release diltiazem versus ramipril, dosed at bedtime, on early morning blood pressure, heart rate, and the rate-pressure product. Randomized controlled trial. Am Heart J. 2004. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/15459593/…

19. Why Should You Take Statins at Night?
https://www.healthline.com/…/why-should-you-take-statins-at…

20. Alan Wallace. Taking simvastatin in the morning compared with in the evening: randomised controlled trial. BMJ. 2003 Oct 4; 327(7418): 788. doi: 10.1136/bmj.327.7418.788

21. Saito, Y, Yoshida, S, Nakaya, N. Comparison between morning and evening doses of simvastatin in hyperlipidemic subjects. A double-blind comparative study. Arterioscler Thromb 1991; 11: 816–826. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2065035?dopt=Abstract
22. Aspirin https://www.health.harvard.edu/…/aspirin-and-your-heart-man…

23. Aspirin at bedtime https://www.webmd.com/…/take-aspirin-at-bedtime-to-better-p…

24. Hermida, RC, Ayala, DE, Calvo, C. Aspirin administered at bedtime, but not on awakening, has an effect on ambulatory blood pressure in hypertensive patients. J Am Coll Cardiol 2005; 46: 975–983. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16168278?dopt=Abstract

25. Snoep, JD, Hovens, MM, Pasha, SM. Time-dependent effects of low-dose aspirin on plasma renin activity, aldosterone, cortisol, and catecholamines. Hypertension 2009; 54: 1136–1142
https://www.google.co.id/url…

26. Optimal Time to Take Once-Daily Oral Medications in Clinical Practice: Aspirin
https://www.medscape.org/viewarticle/584529_10

27. Li Z, et al. Clinical Trial : [Impact of application time of aspirin and clopidogrel on platelet aggregation in patients with acute coronary syndrome].
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/20654074/

28. Cutolo M. Glucocorticoids and chronotherapy in rheumatoid arthritis. RMD Open. 2016; 2(1): e000203. Published online 2016 Mar 18. doi: 10.1136/rmdopen-2015-000203. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4800804/…

29. American Diabetes Association: Standards of Medical Care in Diabetes 2018
https://professional.diabetes.org/…/standards-medical-care-…

30. Cardiovascular Disease and Risk Management: Standards of Medical Care in Diabetes—2018 http://care.diabetesjournals.org/content/41/Supplement_1/S86

31. Zhu ; Zhou ; Yan; Zeng. Optimal Time to Take Once-Daily Oral Medications in Clinical Practice. Int J Clin Pract CME. 2008;62(10):1560-1571 https://www.medscape.org/viewarticle/584529_1

Selasa, 26 Desember 2017

Penggolongan Analgesik

penggolongan analgesik

>> Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan :

        1. Analgesik nonopioid, dan
  
        2. Analgesik opioid.

>> Kedua jenis analgetik ini berbeda dalam hal mekanisme dan target aksinya.

1. Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS)

Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX  pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri. Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.

Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.

  Obat- obat Nonopioid Analgesics ( Generic name )

 Acetaminophen, Aspirin, Celecoxib, Diclofenac, Etodolac, Fenoprofen, Flurbiprofen Ibuprofen, Indomethacin, Ketoprofen, Ketorolac, Meclofenamate, Mefanamic acid Nabumetone, Naproxen, Oxaprozin, Oxyphenbutazone, Phenylbutazone, Piroxicam Rofecoxib, Sulindac, Tolmetin.

Deskripsi Obat Analgesik Non-opioid

a. Salicylates

Contoh Obatnya: Aspirin, mempunyai kemampuan menghambat biosintesis prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase secara ireversibel, pada dosis yang tepat, obat ini akan menurunkan pembentukan prostaglandin maupun tromboksan A2, pada dosis yang biasa efek sampingnya adalah gangguan lambung (intoleransi). Efek ini dapat diperkecil dengan penyangga yang cocok (minum aspirin bersama makanan yang diikuti oleh segelas air atau antasid).


b. p-Aminophenol Derivatives

Contoh Obatnya: Acetaminophen (Tylenol) adalah metabolit dari fenasetin. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek anti-inflamasi yang bermakna.Obat ini berguna untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri pasca persalinan dan       keadaan lain. Efek samping kadang-kadang timbul peningkatan ringan enzim hati.

Pada dosis besar dapat menimbulkan pusing, mudah terangsang, dan disorientasi.

c. Indoles and Related Compounds

Contoh Obatnya : Indomethacin (Indocin), obat ini lebih efektif daripada aspirin, merupakan obat penghambat prostaglandin terkuat. Efek samping menimbulkan efek terhadap saluran cerna seperti nyeri abdomen, diare, pendarahan saluran cerna, dan pankreatitis. Serta menimbulkan nyeri kepala, dan jarang terjadi kelainan hati.

d. Fenamates

Contoh Obatnya : Meclofenamate (Meclomen), merupakan turunan asam fenamat, mempunyai waktu paruh pendek, efek samping yang serupa dengan obat-obat AINS baru yang lain dan tak ada keuntungan lain yang melebihinya. Obat ini meningkatkan efek antikoagulan oral. Dikontraindikasikan pada kehamilan.


e. Arylpropionic Acid Derivatives

Contoh Obatnya : Ibuprofen (Advil), Tersedia bebas dalam dosis rendah dengan berbagai nama dagang. Obat ini dikontraindikasikan pada mereka yang menderita polip hidung, angioedema, dan reaktivitas bronkospastik terhadap aspirin. Efek samping, gejala saluran cerna.

f. Pyrazolone Derivatives

Contoh Obatnya : Phenylbutazone (Butazolidin) untuk pengobatan artristis rmatoid, dan berbagai kelainan otot rangka. Obat ini mempunyai efek anti-inflamasi yang kuat. Tetapi memiliki efek samping yang serius seperti agranulositosis, anemia aplastik, anemia hemolitik, dan nekrosis tubulus ginjal.


g. Oxicam Derivatives

Contoh Obatnya : Piroxicam (Feldene), obat AINS dengan struktur baru.waktu paruhnya panjang untuk pengobatan artristis rmatoid, dan berbagai kelainan otot rangka. Efek sampingnya meliputi tinitus, nyeri kepala, dan rash.

h. Acetic Acid Derivatives

Contoh Obatnya : Diclofenac (Voltaren), obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang kuat dengan efek antiinflamasi, analgetik, dan antipiretik. Waktu parunya pendek. Dianjurkan untuk pengobatan artristis rmatoid, dan berbagai kelainan otot rangka. Efek sampingnya distres saluran cerna, perdarahan saluran cerna, dan tukak lambung. 

i.  Miscellaneous Agents

Contoh Obatnya : Oxaprozin (Daypro), obat ini mempunyai waktu paruh yang panjang. Obat ini memiliki beberapa keuntungan dan resiko yang berkaitan dengan obat AINS lain.


2.  Analgetik Opioid

Analgetik opioid merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin. Sifat dari analgesik opioid yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal: Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin. Tanpa bahaya adiksi: 
 -         Obat yang berasal dari opium-morfin
 -         Senyawa semisintetik morfin
 -         Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin

Analgetik opioid mempunyai daya penghalang nyeri yang sangat kuat dengan titik kerja yang terletak di susunan syaraf pusat (SSP). Umumnya dapat mengurangi kesadaran danmenimbulkan perasaan nyaman (euforia). Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.

Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen), terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan impuls nyeri. Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan, misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain: enkefalin, endorfin, dan dinorfin.

Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis, mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuk ke otak, dan bertindak juga sebagai neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.

Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim.

Ada beberapa jenis Reseptor opioid  yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid μ, κ, σ, δ, ε.  (dan yang terbaru ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1) receptor or “orphan” opioid receptor dan e-receptor, namum belum jelas fungsinya).

Reseptor μ memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan fisik dari opioid. Sedangkan reseptor μ 2 memediasi efek depresan pernafasan.

Reseptor δ yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap μ  opioid. reseptor κ telah diketahui dan berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar dalam otak dan sumsum tulang belakang. Reseptor δ dan reseptor  κ menunjukan selektifitas untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor  μ selektif untuk opioid analgesic.

Mekanisme umumnya  :

Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat.

Efek-efek yang ditimbulkan dari perangsangan reseptor opioid diantaranya: Analgesik, medullary effect, Miosis, immune function and Histamine, Antitussive effect, Hypothalamic effect GI effect.

Efek samping  yang dapat  terjadi: Toleransi dan ketergantungan, Depresi pernafasan, Hipotensi, dll.

Atas dasar kerjanya pada reseptor opioid, analgetik opioid dibagi menjadi:
- Agonis opioid menyerupai morfin (pd reseptor μ, κ). Contoh: Morfin, fentanil.
- Antagonis opioid. Contoh: Nalokson.
- Menurunkan ambang nyeri pd pasien yg ambang nyerinya tinggi.
- Opioid dengan kerja campur. Contoh: Nalorfin, pentazosin, buprenorfin, malbufin, butorfanol.

=>> Obat-obat Opioid Analgesics ( Generic name )

Alfentanil, Benzonatate, Buprenorphine, Butorphanol, Codeine, Dextromethorphan Dezocine, Difenoxin, Dihydrocodeine, Diphenoxylate, Fentanyl, Heroin Hydrocodone, Hydromorphone, LAAM, Levopropoxyphene, Levorphanol Loperamide, Meperidine, Methadone, Morphine, Nalbuphine, Nalmefene, Naloxone, Naltrexone, Noscapine Oxycodone, Oxymorphone, Pentazocine, Propoxyphene, Sufentanil.


=>> Deskripsi Obat Analgesik opioid

1. Agonis Kuat

   a. Fenantren

Morfin, Hidromorfin, dan oksimorfon merupakan agonis kuat yang bermanfaat dalam pengobatan nyeri hebat. Heroin adalah agonis yang kuat dan bekerja cepat.

   b. Fenilheptilamin

Metadon mempunyai profil sama dengan morfin tetapi masa kerjanya sedikit lebih panjang. Dalam keadaan nyeri akut, potensi analgesik dan efikasinya paling tidak sebanding dengan morfin. Levometadil asetat merupakan Turunan Metadon yang mempunyai waktu paruh lebih panjang daripada metadon.

   c. Fenilpiperidin

Meperidin dan Fentanil adalah yang paling luas digunakan diantara opioid sintetik yang ada, mempunyai efek antimuskarinik.Subgrup fentanil yang sekarang terdiri dari sufentanil dan alventanil.

   d. Morfinan

Levorfanol adalah preparat analgesik opioid sintetik yang kerjanya mirip dengan morfin namun manfaatnya tidak menguntungkan dari morfin.

2. Agonis Ringan sampai sedang

   a. Fenantren

Kodein, Oksikodoa, dihidrokodein, dan hidrokodon, semuanya mempunyai efikasi yang kurang dibanding morfin, atau efek sampingnya membatasi dosis maksimum yang dapat diberikan untuk memperoleh efek analgesik yang sebanding dengan morfin, penggunaan dengan kombinasi dalam formulasi-formulasi yang mengandung aspirin atau asetaminofen dan obat-obat lain.

  b. Fenilheptilamin

Propoksifen aktivitas analgesiknya rendah, misalnya 120 mg propoksifen = 60 mg kodein.

  c. Fenilpiperidin

Difenoksilat dan metabolitnya, difenoksin digunakan sebagai obat diare dan tidak untuk analgesik, digunakan sebagai kombinasi dengan atropin. Loperamid adalah turunan fenilpiperidin yang digunakan untuk mengontrol diare. Potensi disalahgunakan rendah karena kemampuannya rendah untuk masuk ke dalam otak.

3. Mixed Opioid Agonist–Antagonists or Partial Agonists

   a. Fenantren

Nalbufin adalah agonis kuat reseptor kapa dan antagonis reseptor mu. Pada dosis tinggi terjadi depresi pernafasan. Buprenorfin adalah turunan fenantren yang kuat dan bekerja lama dan merupakan suatu agonis parsial reseptor mu. Penggunaan klinik lebih banyak menyerupai nalbufin, mendetoksifikasi dan mempertahankan penderita penyalahgunaan heroin.

  b. Morfinan

Butorfanol efek analgesik ekivalen dengan nalbufin dan buprenorfin, tetapi menghasilkan efek sedasi pada dosis ekivalen, merupakan suatu agonis reseptor kapa. 

  c. Benzomorfan

Pentazosin adalah agonis reseptor kapa dengan sifat-sifat antagonis reseptor mu yang lemah. Obat ini merupakan preparat campuran agonis-antagonis yang tertua. Dezosin adalah senyawa yang struktur kimianya berhubungan dengan pentazosin, mempunyai aktivitas yang kuat terhadap reseptor mu dan kurang bereaksi dengan reseptor kappa,mempunyai efikasi yang ekivalen dengan morfin. 

4. Antagonis Opioid

Nalokson dan Naltrekson merupakan turunan morfin dengan gugusan pengganti pada posisi N, mempunyai afinitas tinggi untuk berikatan dengan reseptor mu, dan afinitasnya kurang berikatan dengan reseptor lain.Penggunan utama nalokson adalah untuk pengubatan keracunan akut opioid, masa kerja nalokson relatif singkat, Sedangkan naltrekson masa kerjanya panjang, untuk program pengobatan penderita pecandu. Individu yang mengalami depresi akut akibat kelebihan dosis suatu opioid, antagonis akan efektif menormalkan pernapasan, tingkat kesadaran, ukuran pupil aktivitas usus, dan lain-lain.

5. Drugs Used Predominantly as Antitussives

Analgesic opioid adalah obat yang paling efektif dari semua analgesic yang ada untuk menekan batuk. Efek ini dicapai pada dosis dibawah dari dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek analgesik. Contoh obatnya adalah Dekstrometrofan, Kodein, Levopropoksifen


Pengertian Obat dan Penggolongan Obat

Apa itu obat? Secara umum, pengertian obat adalah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam dan luar tubuh guna mencegah, meringankan, dan menyembuhkan penyakit. Sedangkan, menurut undang-undang, pengertian obat adalah suatu bahan atau campuran bahan untuk dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan termasuk untuk memperelok tubuh atau bagian tubuh manusia.

Pengertian dan Penggolongan Obat

Selain pengertian obat secara umum di atas, ada juga pengertian obat secara khusus. Berikut ini beberapa pengertian obat secara khusus
  • Obat baru: Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti pembantu, pelarut, pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat dan kegunaannya. 
  • Obat esensial: Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan kesehatan masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI. 
  • Obat generik: Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. 
  • Obat jadi: Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk salep, cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk atau bentuk lainnya yang secara teknis sesuai dengan FI atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah. 
  • Obat paten: Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama pembuat yang telah diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan yang memproduksinya. 
  • Obat asli: Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. 
  • Obat tradisional: Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. 

Bagaimana penggolongan obat? Obat dapat digolongkan berdasarkan beberapa kriteria penggolongan. Kriteria penggolongan obat yaitu berdasarkan proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, bentuk sediaan obat, sumber obat, undang-undang, cara kerja obat, cara penggunaan obat, serta kegunaan obat. Menurut proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, obat digolongkan menjadi:

  • Obat diagnostik: Obat diagnostik adalah obat yang membantu dalam mendiagnosis (mengenali penyakit), misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran lambung-usus, serta natriummiopanoat dan asam iod organik lainnya untuk membantu diagnosis pada saluran empedu. 
  • Obat kemoterapeutik: Obat kemoterapeutik adalah obat yang dapat membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh inang. Obat ini hendaknya memiliki kegiatan farmakodinamik yang sekecil-kecilnya terhadap organisme inang dan berkhasiat untuk melawan sebanyak mungkin parasit (cacing protozoa) dan mikroorganisme (bakteri, virus). Obat-obat neoplasma (onkolitika, sitostika, atau obat kanker) juga dianggap termasuk golongan ini. 
  • Obat farmakodinamik: Obat farmakodinamik adalah obat yang bekerja terhadap inang dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimia dalam tubuh contohnya hormon, diuretik, hipnotik, dan obat otonom. 

Penggolongan obat berdasarkan bentuk sediaan obat dikelompokkan menjadi: 
  • Bentuk gas; contohnya, inhalasi, spraym aerosol. 
  • Bentuk cair atau larutan; contohnya, lotio, dauche, infus intravena, injeksi, epithema, clysma, gargarisma, obat tetes, eliksir, sirop dan potio. 
  • Bentung setengah padat; misalnya salep mata (occulenta), gel, cerata, pasta, krim, salep (unguetum). 
  • Bentuk padat; contohnya, supositoria, kapsul, pil, tablet, dan serbuk. 

Penggolongan obat berdasarkan sumbernya, dikelompokkan menjadi: 
  • Mikroba dan jamur/fungi; misalnya, antibiotik penisilin. 
  • Sintesis (tiruan); contohnya, vitamin C dan kamper sintesis. 
  • Mineral (pertambangan); contohnya, sulfur, vaselin, parafin, garam dapur, iodkali. 
  • Hewan (fauna); contohnya, cera, adeps lanae, dan minyak ikan. 
  • Tumbuhan (flora); contohnya, minyak jarak, kina, dan digitalis. 

Penggolongan obat menurut undang-undang dikelompokkan menjadi: 
  • Obat bebas: Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas dan tidak membahayakan si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan; diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. 
  • Obat bebas terbatas (daftar W = waarschuwing = peringatan): Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan (P No.1 sampai P No.6). 
  • Obat keras (daftar G = geverlijk = berbahaya): Obat keras adalah semua obat yang memiliki takaran dosis minimum (DM), diberi tanda khusus lingkaran bulat merah garis tepi hitam dan huruf K menyentuh garis tepinya, semua obat baru kecuali ada ketetapan pemerintah bahwa obat itu tidak membahayakan, dan semua sediaan parenteral/injeksi/infus intravena. 
  • Psikotropika: Psikotropika adalah obat yang memengaruhi proses mental, meransang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang; contohnya golongan barbital/luminal, diazepam, dan ekstasi. 
  • Narkotik (daftar O = Opium ): Narkotik adalah obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK serta dapat menimbulkan ketergantungan dan ketagihan/adiksi yang sanga merugikan individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter; contohnya kodein, metadon, petidin, morfin, dan opium. 

Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya dalam tubuh dikelompokkan menjadi: 
  • Sistemik: obat yang didistribusikan ke seluruh tubuh; contohnya obat analgetik. 
  • Lokal: obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian topikal. 

Penggolongan obat menurut cara penggunaannya, obat digolongkan menjadi: 
  • Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui implantasi, injeksi, membran mukosa, rektal, vaginal, nasal, opthalmic, aurical, collutio/gargarisma/gargle, diberi tiket biru. 
  • Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral, diberi tiket putih. 

Penggolongan obat berdasarkan kegunaan dalam tubuh digolongkan ke dalam: 
  • Untuk diagnosis (diagnostic). 
  • Untuk mencegah (prophylactic). 
  • Untuk menyembuhkan (terapeutic). 

Sekian uraian tentang Pengertian Obat dan Penggolongan Obat. Jika ada pertanyaan, saran/kritik, atau apresiasi, silahkan kirimkan melalui kotak komentar. Terima Kasih, semoga bermanfaat.


Referensi: 
Syamsuni. 2005. Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

 
Design by Blogger Indonesia | Bloggerized by Milik Bersama