Cari Blog Ini

Memuat...

Kuliahku


JURNAL EMULSI TOKOFEROL ( VIT E )


 DATA PREFORMULASI

DATA PREFORMULASI
Nama senyawa
Vitamin E, Alpha Tocopherol
Struktur molekul



Rumus molekul
C31H52O3
Berat Molekul
472.73
Organoleptis
Warna           :  Jernih,warna kuning /kuning kehijauan
Rasa              :  Tidak berasa,atau sedikit berasa
Bau                : Tidak berbau, atau sedikit berbau
Penampilan   :  Cairan seperti minyak
Kelarutan
Alfa Tokoferol asam suksinat tidak larut dalam air;sukar larut dalam larutn alkali;larut dalam etanol,dalam aseton dan dalam minyak nabati;sangat mudah larut dalam kloroform.Bentuk vitamin E lain tidak larut dalam air;larut dalam etanol;dapat bercampur dengan eter,dengan aseton,dengan minyak nabati dan dengan kloroform
Titik Lebur
± 700 C
pH
5
Stabilitas
Tidak stabil di udara dan cahaya terutama dalam suasana alkalis
Catatan
      Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat,terlindung dari cahaya.Bentuk d- atau dl-alfa tokoferol dilindungi dengan gas inert.
      Incompatible with peroxides and metal ions,especially iron, and copper. May be absorbed into plastic. Protect from light,and oxygen during storage

DATA FARMAKOLOGIS
Indikasi
Vitamin E berperan antioksidan dan dapat melindungi kerusakan membrane biologis akibat radikal bebas. Mencegah degenerasi otot,rusaknya sel darah merah,menghambat menuanya sel-sel tubuh.
Interaksi
Beberapa obat yang menghalangi absorbsi vitamin E adalah colestyramine, colestipol, and orlistat
Efek samping
pemakaian vitamin e dalam dosis besar untuk waktu lama dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan reproduksi dan gangguan saluran cerna. gejala-gejala ini hilang dalam beberapa minggu setelah asupan yang berlebihan di hentikan.
( Farmakologi dan terapi FK Universitas Indonesia )
Dosis
DL 1xp            = 10 mg
DL 1xh            = 20 mg
Anak: 1xh = 0,5 mg/kg
(FI III)
Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya. Dapat disimpan pada suhu 15-30° C

IV. BENTUK SEDIAAN
Bentuk Sediaan yang akan di buat adalah emulsi

V. FORMULASI STANDAR
-
Bahan Tambahan yang digunakan
Emulsifying Agent, karena emulsi terdiri dari 2 cairan yang tidak saling bercampur. cairan yang pertama bersifat hidrofil sedangkan cairan yang satunya bersifat lipofil sehingga memerlukan surfaktan untuk menggabungkannya Karena surfaktan memiliki dua kutub dengan kepolaran yang berbeda yang dapat membentuk lapisan film untuk menggabungkan 2 lapisan tersebut .Emulgator yang kami pilih untuk sediaan kami adalah tween dan span, karena tween dan span termasuk kedalam golongan emulgator nonionik yang bersifat netral dan memiliki keseimbangan lipofilik dan hidrofilik. Span dan tween sangat dianjurkan penggunaannya untuk sediaan oral karena dinilai aman, praktis tidak mengiritasi dan memiliki potensi toksisitas yang sangat rendah.
Stabilizer dan zat pembawa pada sediaan emulsi, karena emulsi terdiri dari dua cairan yang awalnya tidak bercampur namun dapat digabungkan dengan penambahan emulgator. System tersebut tidak stabil karena biasanya mudah terjadi pemisahan kembali, untuk mencegah itulah stabilizer digunakan. Stabilizer yang kami pilih pada praktikum ini adalah sorbitol, karena sorbitol selain dapat berperan sebagai stabilizer juga dapat berperan sebagai zat pembawa pada sediaan emulsi bebas gula.  Selain itu, sorbitol memiliki pH 4,5-7 yang masuk dalam rentang pH stabilitas sediaan.

  1. Sorbitol ( FI IV Hal: 567 )
·         Nama lain                    : Sorbitolum
·         Stuktur Molekul          : C6H14O6
·         BM                              : 182,17
·         Ph                                : 4,5 - 7
·         Pemerian                      : Serbuk, butiran, kepingan, putih rasa manis, higroskopik
·         Kelarutan                     : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dalam methanol dan dalam asam asetat
·         Stabilitas                      : stabil diudara
·         Inkompatibilitas          : dapat membentuk khelat yang larut air dengan ion divalen dan trivalen pada keadaan asam kuat dan basa kuat.
·         Khasiat                        : Pemanis ( 25-30% )

  1. Natrium Benzoat
·         Nama lain                    : Natrii  Benzoas
·         Stuktur Molekul          : C6H5-C02Na
·         BM                              :  144,11
·         Pemerian                      : Butiran atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau hamper tidak     berbau.
·         Kelarutan                     : Larut dalam 2 bagian air, 90 bagian etanol
·         Khasiat                        : Pengawet
·         Stabilitas                      : Eektif sebagai antimikoba pada pH 2-5
·         Inkompatibilitas          : gelatin, garam besi , garam kalsium, dan garam logam berat , perak , dan Merkuri.
·         Dosis                           : antimikrobial dalam sediaan oral 0,02-0,5%.


       c. Tween 80
·         Nama lain               : polisorbat 80
·         Rumus molekul       : C 64 H 26 O 124
·         BM                         : 1310 g/mol
·         Pemerian                 :                       - Warna      : putih bening atau kekuningan
                                                             - Rasa         : sedikit berasa seperti basa
                                                              - Bau         : bau khas
                                                             - Bentuk     : cairan seperti minyak
·         Kelarutan                : mudah larut dalam air; dalam etanol (95 %) P, dalam etil asetat P dn dalam metanol P; sukat larut dalam parafin cair P, dan dalam minyak biji kapas P.
·         Kegunaan               : sebagai zat tambahan
·         pH larutan               : 6-8 untuk 5% zat (w/v) dalam larutan berair
·         Stabilitas                 : Stabil bila dicampurkan dengan elektrolit, asam lemah dan basa   lemah,Pereaksi saponifikasi terjadi jika dilakukan penambahan basa kuat/ asam kuat.
·         Inkompatibilitas      : perubahan warna atau pengendapan dapat terjadi dengan berbagai bahan, terutama fenol, tanin.

       d. Span 80
·         Nama lain                  : Sorbitan oleate; Sorbitan (Z)-mono-9-octadecenoate
·         Rumus molekul         : C24 H44 O6
·         Berat molekul           : 428,21
·         Pemerian                   :  cairan kental
·          zat tambahan Pemerian :
- Warna      : krem sampai kecoklatan
- Rasa          : rasa khas
- Bau           : bau khas   
- Bentuk     : cairan kental
·        Kelarutan :
-           Larut atau terdispersi dalam minyak.
-           Larut dalam banyak pelarut organik.
-           Tidak larut dalam air, tetapi dapat terdispersi secara perlahan.
·       Bobot jenis                 : 1,01 gr/cm3  
·       pH larutan                  : < 8
·     Stabilitas                     : Stabil jika dicampurkan dengan asam lemah dan basa lemah,  Pembentukan sabun terjadi saat dilakukan penambahan asam kuat dan basa kuat.
Tween dan Span merupakan surfaktan nonionik. Dosis max 25 mg/ kg bb {ADI (The Acceptable Daily Intake / asupan harian yang  dapat diterima menurut WHO)}

       e. Corn Oil
·         Konsentrasi corn oil dalam sediaan emulsi adalah 67 %, digunakan dalam sediaan oral untuk suplemen makanan. Jika dikombinasi dengan surfaktan biasa digunakan untuk formulasi vaksin hewan.
·         Organoleptis : bening, kuning terang, cairan kental, berbau khas, rasa manis.
·         Stabilitas : stabil jika berada dalam nitrogen dan disimpan dalam botol tertutup rapat.
·         Kelarutan : dapat larut dalam benzene, kloroform, dichloroethane, eter dan hexane, praktis      tidak larut dalam etanol dan air
·         Sifat khusus
-          Nilai keasaman : 2-6
-          Berat jenis : 0,915 – 0,918 gr/cm3
-          Melting point : -18 – 10 oC
-          Inkompatibilitas : corn oil pada sediaan kosmetik sangat peka terhadapa fotooksidasi dan golongan obat yang dilapisi oleh titanium oksida dan zink oksida.


VI. KESIMPULAN FORMULA
R/         Vitamin E                                 400 mg
 Surfaktan (tween 80  & span 80)        6%
            Sorbitol                                                25%
            Natrium benzoate                                  0.1%
            Essence melon                                     qs           
            Aqua                                                     ad 200 ml

VII. PERHITUNGAN DOSIS DAN ATURAN PAKAI
Kadar Vitamin E = 10 mg/5ml
DL 1xp = 10 mg
DL 1xh = 20 mg

diambil 1 x p = 5 ml          
1xp  =  ( 10 mg masuk kerentang 1xp = 10 mg )
1xh  =  2x10 = 20 mg  ( tidak melebihi dl 1xh = 20 mg)
Jadi dosis = 5 ml= 1 sendok teh  2 x sehari

VIII. PENIMBANGAN BAHAN
Vitamin E = 200/5 x 10mg = 400 mg = 0,4 gram
HLB Tween 80              = 15
HLB Span 80                = 4,5
HLB Tocopherol           = 6
Kadar tween & span       = 6 %
15 (12 - a) + 4,5 x a  =  6 x 12
180-15a + 4,5 a = 72
                     108  = 10,5a
                       a = 10,28 ml
                       a = span = 10,28 ml
tween 80                  = 12 - 10,28 ml   = 1,72ml
Sorbitol          = 25% x 200 mL = 50 g
Natrium benzoate   = 0.3% x 200 mL = 0,6 g
Pada pembuatan emulsi ini diperlukan tambahan minyak. Adapun minyak yang digunakan yaitu corn oil. Menurut literatur konsentrasi corn oil yang dapat digunakan untuk sediaan oral yaitu 67%.
Maka, corn oil yang harus ditambahkan yaitu,
67 % x 200 ml = 134 ml ( untuk keseluruhan fase minyak)
Corn oil = 134 ml – ( volume span + volume tween + volume tokoferol)
Corn oil = 134 ml – ( 10, 28 ml + 1,72 ml + 0,36 ml )
Corn oil = 121, 64 ml
Aquadest = add 200 ml (  200 ml – 134 ml = 66 ml)


IX. ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. lumpang dan alu
2. beker glas
3. cawan porselen
4. kaca arloji
5. gelas ukur
6. pipet
7. tabung sedimentasi

BAHAN
1. tokoferol
2. tween 80
3. span 80
4. aquadest
5. natrium benzoat
6. sorbitol

X. PROSEDUR KERJA
•   alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
•   bahan yang berbentuk padatan dihaluskan,
•   timbang 0,4 gram tokoferol, 50 g sorbitol dan 0,6 g natrium benzoat kemudian ambil 10,28tween dan 1,72 ml span
•   0,4 gram tokoferol dicampur kedalam 10,28 ml span sebagai fase minyak (m1) 50 g sorbitol, 0,6 g natrium benzoat, dan 1,72 ml tween dicampur dengan sebagian aquadest sebagai fase air (m2)
•   Kemudian masing- masing m1 dan m2 dilebur diatas penangas air dengan suhu 60-70 0C.
•   Setelah suhu m1 dan m2 sama, kemudian dimasukkan kedalam lumpang (lumpang terlebih dahulu dipanaskan dengan air panas) secara bersamaan dan digerus kuat hingga terbentuk emulsi yang homogen.
•   Kemudian dimasukkan kedalam botol yang telah dikalibrasi dan dilengkapi dengan etiket, brosur dan dimasukan dalam kotak kemasan.

0 komentar:

Poskan Komentar

YANG INGIN BERTANYA, HARAP HUBUNGI LEWAT Fans page facebook... terimakasih (^_^)

 
Design by Blogger Indonesia | Bloggerized by Milik Bersama